Bagi yang ingin mengoleksi uang kuno dan prangko dapat Menghubungi
ke 085291397132
atau 02817989127
email: toyouty@yahoo.co.id
Bagi yang ingin mengoleksi uang kuno dan prangko dapat Menghubungi
ke 085291397132
atau 02817989127
email: toyouty@yahoo.co.id
Posted in Uncategorized
Kabupaten Banyumas berdiri pada tahun 1582, tepatnya pada hari Jum”at Kliwon tanggal 6 April 1582 Masehi, atau bertepatan tanggal 12 Robiul Awwal 990 Hijriyah. Kemudian ditetapkan dengan Peraturan Daerah (PERDA) Kabupaten Daerah Tingkat II Banyumas Nomor 2 tahun 1990.
Keberadaan sejarah Kabupaten Banyumas tidak terlepas dari pendirinya yaitu Raden Joko Kahiman yang kemudian menjadi Bupati yang pertama dikenal dengan julukan atau gelar ADIPATI MARAPAT (ADIPATI MRAPAT).
Riwayat singkatnya diawali dari jaman Pemerintahan Kesultanan PAJANG, di bawah Raja Sultan Hadiwijaya.
Kisah pada saat itu telah terjadi suatu peristiwa yang menimpa diri (kematian) Adipati Wirasaba ke VI (Warga Utama ke I) dikarenakan kesalahan paham dari Kanjeng Sultan pada waktu itu, sehingga terjadi musibah pembunuhan di Desa Bener, Kecamatan Lowano, Kabupaten Purworejo (sekarang) sewaktu Adipati Wirasaba dalam perjalanan pulang dari pisowanan ke Paiang. Dari peristiwa tersebut untuk menebus kesalahannya maka Sultan Pajang, memanggil putra Adipati Wirasaba namun tiada yang berani menghadap.
Kemudian salah satu diantaranya putra menantu yang memberanikan diri menghadap dengan catatan apabila nanti mendapatkan murka akan dihadapi sendiri, dan apabila mendapatkan anugerah/kemurahan putra-putra yang lain tidak boleh iri hati. Dan ternyata diberi anugerah diwisuda menjadi Adipati Wirasaba ke VII.
Semenjak itulah putra menantu yaitu R. Joko Kahiman menjadi Adipati dengan gelar ADIPATI WARGA UTAMA II.
Kemudian sekembalinya dari Kasultanan Pajang atas kebesaran hatinya dengan seijin Kanjeng Sultan, bumi Kadipaten Wirasaba dibagi menjadi empat bagian diberikan kepada iparnya.
1. Wilayah Banjar Pertambakan diberikan kepada Kyai Ngabei Wirayuda.
2. Wilayah Merden diberikan kepada Kyai Ngabei Wirakusuma.
3. Wilayah Wirasaba diberikan kepada Kyai Ngabei Wargawijaya.
4. Wilayah Kejawar dikuasai sendiri dan kemudian dibangun dengan membuka hutan Mangli dibangun pusat pemerintahan dan diberi nama Kabupaten Banyumas.
Karena kebijaksanaannya membagi wilayah Kadipaten menjadi empat untuk para iparnya maka dijuluki Adipati Marapat.
Siapakah Raden Joko Kahiman itu ?
R. Joko Kahiman adalah putra R. Banyaksasro dengan ibu dari Pasir Luhur. R. Banyaksosro adalah putra R. Baribin seorang pangeran Majapahit yang karena suatu kesalahan maka menghindar ke Pajajaran yang akhirnya dijodohkan dengan Dyah Ayu Ratu Pamekas putri Raja Pajajaran. Sedangkan Nyi Banyaksosro ibu R. Joko Kahiman adalah putri Adipati Banyak Galeh (Mangkubumi II) dari Pasir Luhur semenjak kecil R. Joko Kahiman diasuh oleh Kyai Sambarta dengan Nyai Ngaisah yaitu putrid R. Baribin yang bungsu
Dari sejarah terungkap bahwa R. Joko Kahiman adalah merupakan SATRIA yang sangat luhur untuk bisa diteladani oleh segenap warga Kabupaten Banyumas khususnya karena mencerminkan :
a. Sifat altruistis yaitu tidak mementingkan dirinya sendiri.
b. Merupakan pejuang pembangunan yang tangguh, tanggap dan tanggon.
c. Pembangkit jiwa persatuan kesatuan (Majapahit, Galuh Pakuan, Pajajaran) menjadi satu darah dan memberikan kesejahteraan ke kepada semua saudaranya.
Dengan demikian tidak salah apabila MOTO DAN ETOS KERJA UNTUK Kabupaten Banyumas SATRIA.
Candra atau surya sengkala untuk hari jadi Kabupaten Banyumas adalah “BEKTINING MANGGALA TUMATANING PRAJA” artinya tahun 1582.
Bila diartikan dengan kalimat adalah “KEBAKTIAN DALAM UJUD KERJA SESEORANG PIMPINAN / MANGGALA MENGHASILKAN AKAN TERTATANYA ATAU TERBANGUNNYA SUATU PEMERINTAHAN”.
PARA ADIPATI DAN BUPATI SEMENJAK BERDIRINYA
KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 1582
1. R. Joko Kahiman, Adipati Warga Utama II
2. R. Ngabei Mertasura (1560)
3. R. Ngabei Mertasura II (Ngabei Kalidethuk) (1561 -1620)
4. R. Ngabei Mertayuda I (Ngabei Bawang) (1620 – 1650)
5. R. Tumenggung Mertayuda II (R.T. Seda Masjid, R.T. Yudanegara I) Tahun 1650 – 1705
6. R. Tumenggung Suradipura (1705 -1707)
7. R. Tumenggung Yudanegara II (R.T. Seda Pendapa) Tahun 1707 -1743.
8. R. Tumenggung Reksapraja (1742 -1749)
9. R. Tumenggung Yudanegara III (1755) kemudian diangkat menjadi Patih Sultan Yogyakarta bergelar Danureja I.
10. R. Tumenggung Yudanegara IV (1745 – 1780)
11. R.T. Tejakusuma, Tumenggung Kemong (1780 -1788)
12. R. Tumenggung Yudanegara V (1788 – 1816)
13. Kasepuhan : R. Adipati Cokronegara (1816 -1830)
Kanoman : R. Adipati Brotodiningrat (R.T. Martadireja)
14. R.T. Martadireja II (1830 -1832) kemudian pindah ke Purwokerto (Ajibarang).
15. R. Adipati Cokronegara I (1832- 1864)
16. R. Adipati Cokronegara II (1864 -1879)
17. Kanjeng Pangeran Arya Martadireja II (1879 -1913)
18. KPAA Gandasubrata (1913 – 1933)
19. RAA. Sujiman Gandasubrata (1933 – 1950)
20. R. Moh. Kabul Purwodireja (1950 – 1953)
21. R. Budiman (1953 -1957)
22. M. Mirun Prawiradireja (30 – 01 – 1957 / 15 – 12 – 1957)
23. R. Bayi Nuntoro (15 – 12 – 1957 / 1960)
24. R. Subagio (1960 -1966)
25. Letkol Inf. Sukarno Agung (1966 -1971)
26. Kol. Inf. Poedjadi Jaringbandayuda (1971 -1978)
27. Kol. Inf. R.G. Rujito (1978 -1988)
28. Kol. Inf. H. Djoko Sudantoko (1988 – 1998)
29. Kol. Art. HM Aris Setiono, SH, S.IP (1998 – sekarang)
Posted in pariwisata
- <![CDATA[ Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
]]>
Posted in Uncategorized
Posted in Uncategorized
Posted in Uncategorized
Pengunjung Baturraden Melonjak
BANYUMAS, KOMPAS – Kunjungan wisata di Lokawisata Baturraden, Kabupaten Banyumas, pada hari perayaan Natal, Selasa (25/12), melonjak hingga lima kali lipat dari hari biasanya. Meskipun tak terlampau tinggi dari kungjungan pada liburan lebaran lalu yang mencapai 10.000 pengunjung per hari, tapi kunjungan pada hari libur Natal tahun ini tetap lebih tinggi 70 persen dibandingkan Natal tahun lalu.
Kepala Unit Pelaksana Tugas Lokawisata Baturraden Djoko Hariyanto mengatakan, jumlah kunjungan pada hari libur Natal sekarang ini mencapai 1.500 pengunjung, sedangkan pada hari biasa jumlah pengunjung hanya 200 orang per hari.
“Sebenarnya, lonjakan kunjungan ini sudah mulai terjadi sejak Idul Adha kemarin. Mulai saat itu sampai sekarang, jumlah kunjungan berkisar 1.000 sampai 1.500 pengunjung saban harinya. Bahkan pada hari Minggu kemarin, jumlah pengunjung mencapai 2.000 orang,” katanya.
Sebaliknya untuk kunjungan pada hari libur Natal tahun lalu, diakui Djoko, memang anjlok cukup drastis, menyusul putusnya jembatan gantung di lokawisata tersebut yang mengakibatkan sejumlah pengunjung tewas. “Tapi sekarang, jumlah kunjungannya sudah lumayan meningkat. Nampaknya masyarakat sudah tidak trauma lagi dengan kejadian tahun lalu,” katanya.
Dia memperkirakan, kunjungan hingga 1.500 orang per hari itu akan berlangsung hingga hari perayaan tahun baru 2008 nanti. “Kemungkinan puncak kunjungannya akan terjadi pada tahun baru nanti,” katanya.
Namun untuk kenyamanan pengunjung, Djoko mengatakan, pihaknya tetap mengutamakan keamanan. Jembatan gantung yang putus pun sudah diganti dengan jembatan berkonstruksi beton. “Pembangunan jembatan ini sudah selesai, tinggal menunggu persetujuan bupati untuk operasionalnya. Jembatan ini dijamin aman untuk dilalui para pengunjung,” katanya menjelaskan.
[sumber: Kompas]
Baturraden berasal dari dua kata yaitu Batur yang dalam bahasa Jawa berarti Pembantu, Teman, atau Bukit & Raden yang dalam bahasa juga berarti Bangsawan. Cerita tentang Baturraden ada dua versi. yaitu versi Kadipaten Kutaliman & versi Syekh Maulana Maghribi.
Versi Kadipaten Kutaliman – Pada Ratusan tahun silam konon terdapat sebuah Kadipaten yang terletak 10 Km disebelah Barat Baturraden. Adipatinya mempunyai beberapa anak perempuan & seorang gamel (pembantu yang menjaga kuda). Salah Satu Anak Perempuannya jatuh cinta dengan gamel. Cinta mereka dilakukan secara sembunyi-sembuyi. Sesudah mendengar berita, bahwa anak perempuannya jatuh cinta dengan pembantunya, sang Adipati marah & mengusir gamel & anak perempuannya dari rumah. Diperjalanan dia melahirkan bayi didekat sungai, kemudian mereka menamakannya sungai Kaliputra. (Kali berarti Sungai & Putra berarti anak laki-laki). Letaknya kira-kira 3 Km sebelah utara Kutaliman. Akhirnya mereka menemukan tempat yang indah, & memutuskan untuk tinggal di tempat tersebut. Berdasarkan versi pertama tersebut nama Baturaden seharusnya ditulis dengan dua “R” karena versi tersebut berasal dari kata “Batur” & “Raden” menjadi “Baturraden”.
Versi Syekh Maulana Maghribi – Syekh Maulana Maghribi adalah seorang ulama. Dia seorang Pangeran dari Turki. Suatu hari setelah Subuh, dia melihat cahay misterius bersinar disebelah Tenggara. Dia ingin mengetahui darimana cahaya misterius itu datang & apa artinya. Dia memutuskan untuk mencari tahu. Dan dia ditemani oleh sahabatnya, Haji Datuk. & pekerjanya. Mereka berlayar menuju kearah datangnya cahaya misterius tersebut. Kemudian setelah Syekh Maulana Maghribi sampai di Pantai Gresik, cahay misterius tersebut tampak disebelah Barat, & akhirnya mereka sampai di pantai Pemalang Jawa Tangah. Ditempat ini Dia meminta para pekerjanya untuk pulang. Sementara itu dia ditemani oleh Haji Datuk untuk melanjutkan perjalanannya dengan jalan kaki menuju kearah Selatan sambil menyebarkan agama Islam. Kemudian Syekh Maulana Maghribi tinggal di Banjar Cahayana. Ditempat itu Dia terkena penyakit gatal yang serius dan susah disembuhkan. Sesudah sholat Tahajud.dia mendapat Ilham bahwa dia harus pergi ke Gunung Gora. Sesudah sampai di lereng Gunung Gora Dia meminta Haji Datuk untuk meninggalkannya& menunggu ditempat yang mengepulkan asap. Ternyata disitu ada sumber air panas & Syekh Maulana Maghribi menyebutnya ” Pancuran Pitu” yang artinya sebuah sumber air panas yang mempunyai tujuh mata air. Setiap hari Syekh Maulana Maghribi mandi secara teratur di tempat itu, dengan begitu dia sembuh dari penyakit gatalnya. Orang sekitar menyebut Syekh Maulana Maghribi sebagai “Mbah Atas Angin” karena Dia datang dari sebuah negeri yang jauh. Dan Syekh Maulana Maghribi dinamakan Haji Datuk Rusuhudi ( Dalam bahasa Jawa berarti Batur yang Adil atau Pembantu Setia). Tempatnya terkenal dengan satu “R” dan bernama “Baturaden”. Karena Syekh Maulana Maghribi sembuh dari penyakit gatal & aman dilereng gunung Gora. Selanjutnya Dia mengganti nama Gunung Gora itu menjadi Gunung Slamet. Slamet dalam bahasa Jawa berarti aman. Tempat dimana Syekh Maulana Maghribi sembuh dianggap sebagai tempat keramat oleh orang sekitar. Banyak orang dari Purbalingga, Banjarnegara, & Pekalongan mengunjungi tempat tersebut pada Selasa Kliwon & Jum’at Kliwon.
WANAWISATA
Terletak 2 KM dari Lokawisata Baturraden. Ditempat ini dapat dinikmati keindahan alam hutan dilengkapi dengan tempat perkemahan yang dapat menampung 1000 tenda. Disini juga terdapat teater alam dengan pembibitan tanaman produksi seperti Cemara, Pinus, & sebagainya.
CURUG GEDE
Terletak di Desa Wisata Ketenger, kurang lebih 2 km dari Lokawisata Baturaden. Ditempat ini dapat dinikmati air terjun dengan keindahan alam dan lempengan batu.
TELAGA SUNYI
Obyek Wisata ini berjarak kurang lebih 3 km di sebelah selatan Baturaden. Wisata ini menyuguhkan keindahan Alam & Kesunyian serta indahnya bebatuan.
PANCURAN PITU
Terletak kurang lebih 7 km dari Lokawisata Baturraden. Tempat rekreasi ini menyuguhkan kegiatan alam dan hutan dengan didukung adanya Pancuran 7 yang dapat dijadikan sebagai tempat Wisata Husada dan Gua Sarabadak yang terdapat pertemuan sumber air panas & dingin.
Posted in Uncategorized
Erich von Däniken first presented more than forty years ago his theory of extraterrestrial contact with the ancient world. Erich von Däniken is the best-selling non-fiction author of all time. His 29 books have sold more than 63 million copies and have been translated into 32 languages. Besides creating a whirlwind of conspiracy, his work has had a far-reaching influence on entertainment and science.
Numerous scientists and interested individuals have joined Erich von Däniken’s research organization (Archaeology, Astronautics & SETI Research Association) which explores new frontiers in the newly established Paläo-SETI science.
NEW – Mysteries, The work of Erich von Däniken
Erich von Däniken’s latest pictorial book Mysteries is available now.
Mysteries will take you on an unforgettable journey around our planet and documents breathtaking photographs of facts and archeological sites supporting Erich von Däniken’s theory of historical contacts between civilizations from outer space with ancient civilizations.
Posted in Uncategorized